Sabtu, 31 Desember 2011

Sejarah Perkembangan Sastra Indonesia

PERKEMBANGAN SEJARAH SASTRAINDONESIA
TAHUN 1600-1933
ZAMAN PURBA
Pada zaman purba masyarakat Indonesia mempunyai dua kepercayaan yang disebut animisme  dan dinamisme .Kepercayaan animism beranggapan bahwa hewan,manusia, dan benda mati mempunyai roh.Kepercayaan dinamisme yaitu suatu kepercayaan kepada benda mati dan benda hidup ,dianggap mempunyai kekuatan gaib dan dapat mendatangkan kebaikan dan kerugian.Adapun sifat manusia pada zaman itu sangat memuja alam ,sangat mematuhi adat istiadat yang telah ditentukan bersama ,dan sangat memiliki sifat gotong-royong yang tinggi,menutup diri terhadap masyarakat luar ,dan tidaksudi mengadakan pembaharuan atau bersifat statis.Sifat kesusastraan yang menyebar pada waktu itu berkisar tentang dongeng –dongeng hantu ,cerita-cerita gaib,kesaktian yang irasional,tidak dapat ditangkap dengan akal sehat,normal.Kesusastraan yang dihasilkan terdiri dari sastra lisan dan tulisan.Sastra tulisan ditulis pada daun lontar atau pada batu tulis .Sastra yang dihasilkan yaitu terjadi pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu dan agama Islam.Adapun kesusastraan lisan yaitu sasra yang disampaikan dari mulut ke mulut.Adapun ciri-ciri sastra lisan sebagaimana dikemukakan oleh Dr.Faruk dan Dr.Suminto.A.Sayuti .Yaitu 1).Sastra lisan banyak menggunakan pengulangan berpola ,baik dalam hal satuan informasi maupun satuan ekspresi,2).Pada satuan ekspresi dan satuan informasi sasra lisan cenderung pendek,3).Pola satuan ekspresi dan satuan informasi yang tampak panjang cenderungdi potong pendek-pendek,4).Sastra lisan cenderung menggunakan kata penghubung penjumlahan ,kata penghubung keserempakan dan urutan waktu,sebagai hubungan yang paling tampak di permukaan daan paling mudah diingat,5).Sastra lisan banyak menggunakan kata-kata yang bersifat sinonim ,sehingga sastra tersebut mengutamakan keterlibatan pada kehidupan(Faruk dan Sayuti,1998:121).
           Berdasarkan pendapat di atas,jadi sastra lisan ialah hasil sastra yang dihasilkan oleh manusia yang berhubungan erat dengan tata kehidupan yang berbentuk ekspresi maupun yang berbentuk informasi ,sebagai salah satu contoh bentuk sastra lisan seperti dongeng-dongeng,mantera-mantera,cerita pantun .Dalam hal ini James Dananjaya mengemukakan bahwa sastra lisan terdiri :  a).bahasa rakyat (talk speech) seperti logat ,julukan ,pangkat tradisional,dan title kebangsawanan, b).ungkapan tradisional seperti peribahasa ,pepatah dan pomeo, c).pertanyaan tradisional seperti teka-teki ,d ).puisi rakyat seperti pantun,gurindam,dan syair, e).cerita prosa rakyat seperti,mite,legenda,dan dongeng,f ).nyanyian rakyat (Dananjaya,1991:21-22)
           Sifat kesusastraan yang dihasilkan pada zaman tersebut  yaitu sebagai berikut:
1.       Sesuai dengan kepercayaan mereka,pada zaman itu banyak cerita-cerita tentang hantu,jin,baik dalam puisi maupunprosa.
2.       .hidupnya statis,maksudnya perubahan –perubahandalam bentuk dan isi hampir tidak ada ,kalaupun ada sangat lamban
3.       Pada umumnya tidak diketahui pengarangnya dan karangannya tidak menggambarkan keaslian pribadi pengarang,karena orang-orang harus tunduk kepada kebiasaan yang berlaku pada waktu itu disampaikan secara lisan dan turun temurun dari mulut ke mulut ,baik yang berupa prosa maupun puisi.Berdasarkan penelitian ahli sastra ,karya lisan pada umumnya mengandung unsure-unsur puisi,yaitu semacam a.)mantra,b)bidal,c) pantun kilat,d) pantun ,e) pantun berkait dan f) talibun.
Sebelum kedatangan agama Hindu kesusastraan pada zaman purba menghasilkan:
-cerita-cerita tentang hantu
-dongeng-dongeng binatang yang hidup dan bertingkah seperti manusia
-mantera-mantera untuk mengusir roh jahat
-drama purba berupa:cerita wayang ,seperti wayang golek,wayang kulit.
         Perkembangan sastra setelah kedatangan agama Hindu hasil sastranya berupa :
-Cerita-cerita binatang terjemahan dari bahasa India
cerita-cerita raksasa
-Cerita Mahabarata dan Ramayana
-Mantera yang dimasuki unsur kehidupan
-Puisi berbentuk seloka(India)gurindam,pantun.
         Setelah kedatangan Islam kesusastraan Indonesia menghasilkan :
-Cerita tentang binatang terjemahan dari hikayat Bayan Budiman
-Terjemahan dari cerita Parsi Seribu Satu Malam ,Ali Baba ,Abu Nawas
-Mantera yang mengandung keislaman dengan dimasukannya ayat-ayat Al-Qur an
-Puisi berbentuk bidal ,yaitu peribahasa ,pepatah,tamsil,ibarat,dan perumpamaan .
-Puisi berbentuk syair (dari Arab)
-Bahasa berirama / cerita-cerita pelipur lara.
-Cerita-cerita tentang nabi.
SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA PADA  ZAMAN BALAI PUSTAKA
  
           Balai Pustaka adalah salah satu penerbit yang didirikan oleh pemerintahan Belanda di Jakarta dipimpin oleh Dr.G.A.J.Hazeu .Badan ini tadinya bernama “Commissie voor de volkslectuur” bertugas mengumpulkan cerita –cerita rakyat dan menerbitkannya dalam bahasa melayu dan bahasa daerah.Pada tahun 1917 badan ini diubah menjadi Balai Pustaka.Atas usaha Balai Pustaka pada tahun 1918  berdirilah Taman Bacaan Rakyat yang pertama berbahasa Melayu .Roman yang pertama terbit yang berbahasa Melayu yaitu “Roman Azab dan Sengsara” tahun 1920 karya Merari Siregar ,dan roman lain pun termotivasi oleh Merari Siregar yaitu “Siti Nurbaya karya Marah Rusli .
           Keberadaan Balai Pustaka sangat positifterhadap perkembangan bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia,hal ini terbukti dapat:
1)      Memberikan kesempatan kepada pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita ciptaanny dalam bahasa Melayu
2)      Memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk membaca hasil ciptaan bangsanya sendiri dalam bahasa Melayu
3)      Menciptakan hubungan antara sastrawan dengan masyarakat sebab melalui karangannya sastrawan melukiskan hal-hal yang dialami oleh bangsanya dan menjadi cita-cita bangsanya
4)      Balai Pustaka dapat memperkaya dan memperbaiki bahasa melayu sebab diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kalangan yang diterbitkan di Balai Pustaka ditulis dengan bahasa Melayu yang baik dan terpelihara (Suhendar, 1998:30-31). Selain itu sastra daerahpun tidak mau kalah buktinya pada tahun 1914 Daeng Kanduruan Ardiwinata berhasil mengarang roman yang berjudul Baruang Ka Nu ngarora  dan setahun kemudian  terbit karya  sastra terjemahan yaitu Si Jamin Dan Si Johan  yang disadur oleh Merari Siregar .
Pertemuan sastrawan pada masa Balai Pustaka berisi kritikan tak langsung terhadap adat dan kebiasaan buruk yang ada di masyarakat yang tidak sesuai dengan keadaan jaman misalnya kawin paksa. Roman yang termashur pada masa itu adalah Salah Asuhan. Roman tersebut mengulas tentang pertentangan antara kaum muda dan kaum tua dalam hal pernikahan.
Latar belakang lahirnya Balai Pustaka ialah 1) Pemerintah  jajahan mendirikan Taman Bacaan Rakyat untuk keperluan rakyat dalam rangka melatih keterampilan membaca, 2) Pemerintah jajahan mengusahakan mengumpulkan cerita rakyat, membuka cerita rakyat, menerjemahkan  cerita dari bahasa asing, dan memberikan kesempatan pada pengarang muda untuk  menerbitkan karangannya dengan ketentuan-ketentuan; tidak boleh berbau politik, tidak boleh menyinggung perasaan keagamaan seseorang, dan bahasa serta ejaannya yang baik (Murtilah dkk, 1981:14).
Adapun sifat karangannya yang ada pada prosa  (roman) yaitu isinya pada umumnya merupakan tuntunan budi, Nampak  ingin mengajari  pembaca, hampir sebagian besar pelakunya meninggal dunia, nama pengarangnya dibubuhkan, temanya membahas mengenai kawin paksa, adat istiadat, dan sesuai dengan syarat-ayarat yang ditentukan oleh pemerintah jajahan. Karakter sastra dalam bentuk puisi tidak ada perubahan yang berarti dari yang dihasilkan pada masa sebelumnya.
Demikianlah sejarah perkembangan sastra pada tahun 1920-an dan pada waktu itu Ejaan  Ch.A.Van Ophusyen.Sastra pada saat itu sangat dinamis, karya sastra bercorak romantic idealistic artinya corak-corak baru selalu kandas oleh adat lama, sehingga cita-cita tersebut hanya angan-angannya saja. Itulah sebabnya Marah Rusli selalu para pelaku utamanya dimatikan olehnya, bahasanya menggunakan bahasa Melayu baru, namun tetap dihiasi ungkapan-ungkapan klise.
Adapun ciri sifat-sifat sastra pada masa Balai Pustaka ialah:
.              a) pengarangnya masih menggunakan bentuk-bentuk puisi lama
               b) puisi barat mulai digunakan oleh penyair-penyair muda seperti Muh. Yamiin
               c) bentuk roman yang paling dominan temanya perlawanan atau perjuangan terhadap adat
                    lama misalnya kawin paksa.
SEJARAH PERKEMBANGAN SASTRA ZAMAN PUJANGGA BARU
       Zaman Pujangga Baru  ialah salah satu periode sastrawan Indonesia bersepakat untuk mencari jalan keluar dari kungkungan penjajah Belanda.Dengan diam-diam pengarang muda Indonesia mencari jalan keluar bagaimana caranya keluar dari kaum penjajah.Maka para sastrawan bersepakat mendirikan sebuah organisasi baru yang diberi nama Pujangga Baru.Nama tersebut diambil dari majalah yang diterbitkan pada tanggal 29Juli 1933.Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh St Takdir Alisyahbana,Amir Hamzah,Armin Pane dan Sanusi Pane.
       Menurut Pujangga Baru kesusastraan selain berfungsi untuk melaksanakan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa ,juga untuk mendorong bangsa tersebut kearah yang lebih maju.Pengarang Pujangga Baru banyak dipengaruhi pujangga Belanda hal ini karena banyak pujangga Indonesia banyak dididik orang Belanda,sekolah di Belanda.
      Latar belakang lahirnya Pujangga Baru adalah sebagai berikut:
Adanya pertemuan dengan bangsa Eropa ,yang menghasilkan dan memberikan pengaruh kepada a)perkembangan politik,b)cara hidup,c) jalan pikiran,d) dan seni sastra.Lahirnya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di sekolah-sekolah.
      Sifat kesusastraannya yang tadinya bertemakan kedaerahan sekarang meningkat menjadi bertemakan nasional (kebangsaan).Bentuk maupun isi karangannya berubah ,bentuk puisi menghasilkan sajak ditikhon,terzina,quatrain,quint,sektet,septima,oktaf,dan sonata.Setiap karangan memperlihatkan gaya bahasa pengarangnya.Nama pengarangnya dibubuhkan pada hasil karanganya .Gaya bahasa dipengaruhi kesusastraan Belanda dan isi karangannya dalam bentuk prosa membahas tentang persamaan hak,kemajuan bangsa,pandangan hidup,cita-cita bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan.
      PERKEMBANGAN SEJARAH  SASTRA INDONESIA
               TAHUN 1933-1970
PERIODE 1942 ZAMAN JEPANG
         Zaman Jepang adalah suatu zaman dimana bangsa Indonesia selama 3,5 tahun dijajah.Selama dipimpin  oleh pemerintah Jepang,bangsa Indonesia diberikan janji-janji muluk yang menyenangkan.Tahun 1943 Jepang mengumpulkan para sastrawan Indonesia dan diberi nama “Kuimin Bunka Shidaseko ‘ (pusat kebudayaan).Janji Jepang tidak dilaksanakan ,yang jelas hanya penyiksaan ,pengekangan,yang akhirnya rakyat Indonesia mengalami kemelaratan ,kemiskinan,juga ketakutan yang mendalam.
        Karya sastra pada zaman Jepang diwarisi angkatan Pujangga Baru yaitu romantic dan idialis tetapi karya tersebut bersifat “realitas dan kritis “.Perkembangan sastra pada zaman itu dapat disebut sastra peralihan dari alam romantic dan alam idialis menjadi alam realitas dan kritis .
ZAMAN PERIODE 1945
Setelah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942,dengan segera mereka berusaha melenyapkan segala sesuatu yang berbau kolonialis imperialis Barat.
Rosihan Anwar memberikan nama kepada mereka yaitu angkatan 45 yang dimuat dalam majalah Siasat tanggal 9 Januari 1945 ,patokan yang digunakan oleh angkatan 45 adalah:
a. Wujud pernyataan lebih dipentingkan
b. kepribadian seseorang hendaknya menjadi pegangan dan ukuran nilai mencipta
c. nilai-nilai baru harus ditempatkan setelah nilai-nilai lama dihancurkan
d. pencipta harus mempunyai kebebasan penuh dalam penciptaan pengarangnya
e. tekanan difokuskan kepada kebudayaan dunia harus bersifat universal
Yang menjadi pelopor dalam bidang puisi pada zaman angkatan 45 adalah Chairil Anwar,sedangkan yang menjadi pelopor dalam bidang  prosa adalah Idrus.
Karya sastra angkatan 45 mempunyai cirri-ciri    :
a.       Bentuk-bentuknya agak bebas dari angkatan lain
b.      Isinya dominan bercorak realita
c.       Jika perlu,bentuk harus tunduk kepada puisi
d.      Isi yang lebih dipentingkan bukan kulitnya (bahasa)
 Latar belakang lahirnya angkatan 45 ada dua hal yaitu kekejaman penjajahan,dan penderitaan akibat revolusi.Sifat kesusastraanya adalah :
1.       Isi cerita mengenai penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh kekejaman penjajahan Jepang yang dilanjutkan oleh akibat perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan .
2.       Bentuk karangan kebanyakan berbentuk cerpen dan novel
3.       Bahasanya pendek-pendek tapi padat,agak kasar,kurang memperhatikan peraturan tata bahasa dan ejaan
4.       Bentuk puisi melahirkan bentuk baru yang meninggalkan segala peratuan persajakan yaitu disebut sajak bebas.Tema karangan adalah mengenai hal-hal yang semula dianggap tidak penting(cerpen tikus,celana pendek).Karangannya mendapat pengaruh dari para pujangga barat seperti pujangga Rusia,Amerika,Italia,Spanyol,Prancis,Inggris
PERIODE TAHUN 1950
Periode 50 bukan hanya pengekor dari angkatan 45 tetapi sudah merupakan survival atau penyelamat setelah mengalami masa-masa kegoncangan.Ciri-ciri sastra angkatan 50 antara lain :
1.       Puisi kegiatan sastra telah meluas ke pelosok Indonesia,tidak hanya terpusat pada Jakarta atau Yogyakarta.
2.       Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra nasional Indonesia
3.       Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan pada kekuasaan asing,akan tetapi pada peleburan antara ilmu dengan pengetahuan asing dengan berdasarkan pada perasaan dan ukuran nasional.
Menurut Ayip rosidi,angkatan 50 disebut angkatan terbaru sastrawan Indonesia,hal ini dilontarkan pada tahun 1960.Istilah ini menurut Ayip Rosidi bukan ciptaannya sendiri,tetapi dari .ketua symposium sastra Pekan Kesenian Mahasiswa II tahun 1960(Nogro Notosusanto .
Angkatan 50 adalah suatu angkatan kesusastraan Indonesia modern yang terikat oleh kesatuan waktu dan tempat.Tempatnya Indonesia,waktunya tahun-tahun pertama pada tahun 50.Angkatan ini muncul saat dunia kesusastraan Indonesia dimendungi kemuraman masalah krrritis,impasse,dan kelesuan.Para sastrawan muda yang baru muncul banyak menulis tak banyak bicara .Karena itu angkatan 50 disebut angkatan kerja.
ANGKATAN 66
Angkatan 66 adalah suatu generasi baru yang melakukan   pendobrakkan yang disebabkan oleh penyelewangan-penyelewengan yang besar-besaran yang membawa Negara ke jurang kehancuran. Timbulnya hal tersebur diakibatkan karena adanya nafsu pribadi dan tindakan tanpa ada perhitungan baik dalam politik, ekonomi, maupun kebudayaan, sehingga masyarakat yang mengalami keruntuhan spiritual dan material demikian Iskandarwssid (1998).
       Menurut HB Jassin  yang termasuk angkatan 66 adalah mereka yang tatkala tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun dan baru masuk sekolah rakyat, jadi mereka yang tahun 1966 kira-kira berumur 25 tahun. Mereka itulah yang giat menulis dalam majalah Sastra dan Kebudayaan sekitar tahun 1955-an,  seperti Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia Budaya Indonesia, Konfrontasi, Cerita Prosa, Sastra dan Basis. Menurut HB Jasin angkatan 66 bukan hanya mereka yang menulis sajak-sajak pada permulaan tahun 1966, tetapi juga mereka yang telah tampil beberapa tahun sebelumnya juga termasuk. Peristiwa penting yang terjadi di Indonesia yaitu ada dua, pertama tahun 1945 dan kedua tahun 1966. Than 1945 merupakan momentum kemerdekaan sebagai yang dilontarkan Chairil Anwar yang berontak tehadap penjajahan Jepang tahun 1943 dengan Aku ini Bintang Jalang dan kedua angkatan 66 dengan momentum menegakkan keadilan dengan kejadian para penyair dan para cendikiawan yang timbul suatu ledakan pemberontakan karena sekian lama dijajah jiwanya dan diberikan janji-janji muluk. Angkatan 45 menjadikan dua sumber ilhamnya dan mengutarakan sikapnya, sedangkan angkatan 66 mempunyai nilai- nilai baru dalam kebudayaan daerah agar masuk ke tingkat nasional. Angkatan 45 terlahir dari politik tetapi  tidak mengitungkan politik, sehingga dengan meninggalnya pelopor utamanya angkatan 45 menjadi kucar-kacir mencari jalan sendiri –sendiri. Menurut Emil Salim angkatan 45 memberontak terhadap rezim bangsa sendiri. Ciri kebudayaan angkatan 66 tidak terlepas dari sebab-sebab timbulnya angkatan itu sendiri  yaitu kebebasan, keadilan, kebenaran, dan keutuhan.
      Kesimpulan lahirnya angkatan 66 disebabkan:
1.       Karena  politik dan memperhitungkan politik
2.       Karyanya bernadakan keadilan
3.       Menegakkan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
4.       Lahir dari akibat penindasan gak asasi manusia
5.       Berorientasi ke dalam negeri
6.       Karyanya bersifat reasitas, naturalita, dan eksistensialitas
7.       Merupakan wadah untuk para sastrawa, ahli kebudayaanl, seniman, dan pelukis
Ciri karya sastra 1960 dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, pertama kelompok
               antara 1960-sebelum tahun 1966, dan kedua tahun 1966-1970. Tahun 1960-1966 merupakan masa kejayaan para  prngrang Lekra yang bernaung di bawah naungan panji-panji PKI. Pada masa ini pengarang yang tidak tergabung  di dalam Lekra kurng berkembang kreatifitasnya Karen manifest kebudayaan yang menjadi konsepsi plemikiran dilarang. Walaupun demikian mereka tetap berkarya, dan menghasilkan puisi-puisi yang bercorak keagamaan. Masa 1966-1970 didominasi oleh karya yang  beraliran realism sosial kanan.Ciri puisi tahun 1960-an menurut Waluyo (dalam Iskandarwassid, 1998:128) bahwa ciri-ciri struktur puisi tersebut sama dengan puisi periode tahun 50-an Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari struktur fisik:
a.       Berbentuk balada
b.       Menggunakan gaya tepetisi
c.       Menggunakan gaya-gaya slogan dan tetorik
Struktur tematik:
a.       Bercorak kedaerahan
b.      Masalah sosial; kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya dan miskin, demonstrasi dan
c.       Keagamaan.
Ciri-ciri Prosa dan Drama.
        Struktur fisik: karya ptosa fiksi dan drama tahun 60-an, msih menunjukan struktur fisik konvensional Sumarjo(1992:308) mengatakan bahwa “kaidah mimiesis dalam sastra masih dipatuhi dalam penulisan sastra drama tahun 1950-an dan 60-an di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa belum ada perubahandalam han penokohan, alur, dan latar ceritanya. Bahkan menurut catatan Sumarjono ( 1992: 309) dari 55 ddrama yang  ada sebanyak 45 drama memasang tokoh yang jelas sekali nama, usia, wata, dan latar belakang sosiologisnya.
Struktur tematik:
       Prosa fiksi dan drama tahun 1960-an menunjukkan cirri-ciri tema sebagai berikut:
a.       Perjuangan (berlatar revolusi)
b.      Kehidupan PSK
c.       Sosial
d.      Kejiwaan
e.      Keagamaan
Bebeapa pengaruh angkatan 66 di antaranya: 1) Ajip Rosidi, 2) Mohamad Ali, 3) Toto Sudarto, 4) Alexander Leo, 5) NH dini, 6) Toha Muchtar, 7) Trisnoyuwono, 8) AA Navis, 9)Yisach Ananda, 10)Hartoyo Andang, 11) Ardan, 12) A Bastari Astin.
PERKEMBANGAN SEJARAH SASTRA INDONESIA TAHUN 1970-2000
          Pada periode ini beberapa peristiwa terjadi antara lain:
a.       Pada tahun 1970 H.B. Yassin  diadili. Majalah yang dipimpinnya dituduh memuat cerita pendek yang menghina agama islam
b.      Pada tahun 1973 penyair Sutarji Calzoum Bachri mengumumkan kredo puisinya. Pada tahun ini muncul istilah “aliran” Rawamangun dari MS Hutagalung.
c.       Pada tahun 1974 diselenggarakan “Pengadilan” di Bandung. Pada bulan September diselenggarakan “Jawaban atas Pengadilan Puisi”, yang delangsungkan di Jakarta.
d.      Pada tahun 1975 diselenggarakan diskusi besar cerita pendek Bahasa Indonesia, diadakan di Bandung.
e.      Pada tahun 1970 muncul istilah angkatan 70, dilontarkan oleh Dami N. Toha.
f.        Pada tahun 1980 Novel Bumi Manusia dan      Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer dilarang oleh permerintah, demikian pula untuk novel-novel lainnya (1985,1987 dan 1988)
g.       Pada bulan Agustus 1982 diadakan Seminar Peranan Sastra dalam perubahan Masyarakat, diselenggarakan di Jadarta.
h.      Pada tahun 1984 muncul masalah “Sastra Kontekstual” serta jadi topic diskusi.
ANGKATAN  70
Angkatan 70 pertama kali diperkenalkan oleh Dami.N.Toda,dalam kertas kerjanya.”Peta-peta perpuisian Indonesia 1970-an dalam sketsa ‘ yang diajukan dalam diskusi sastra memperingati ulang tahun ke-5 majalah tifa sastra di fakultas sastra UI(25 Mei 1977 ).Kertas kerja ini kemudian di muat dalam majalah Budaya Jawa(September 1977)dan satyagraha hoerip (ed)dalam “Sejumlah Masalah Sastra”(1982)
SASTRA ANGKATAN  2000
 Kehadiran sebuah angkatan baru dalam dunia sastra,tentu memiliki cirri-ciri tertentu .Misalnya ,sebuah angkatan baru mendobrak kredo yang diyakini angkatan sebelumnya disamping menampilkan wawasan estetiknya sendiri.Dengan kata lain ada tunggak khusus yang membedakan angkatan yang satu dengan yang lain.Rata-rata angkatan baru sastra Indonesia punya warna pengungkapan yang sama yaitu;terus terang,tidak basa basi lebih berani,tidak konvensional,menembus batas bangsa dan Negara.Dengan demikian,karya mereka dapat dikatakan berciri universal,dengan menampilkan warna local.
            
KARYA SASTRA
Karya sastra tahun 60-an dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok.pertama antara tahun 60,sebelum 60,kedua tahun 66-70.
Pada masa pertama (60-70) termasuk masa kejayaan para pengarang LEKRA yang bernaung di bawah panji-panji PKI.Pada masa itu para pengarang yang tidak tergabung di dalam LEKRA kurang berkembang kreativitasnya,karena manifes kebudayaan yang menjadi konsepsi pemikiran dilarang.Walaupun demikian mereka tetap berkarya dan menghasilkan puisi-puisi yang bercorak keagamaan.
Pada masa 66-70,didominasi oleh karya yang beraliran realism sosial kanan Waluyo(dalam Iskandarwasid,1988;128).Dalam membicarakan cirri karya sastra masa 60-an ,lebih banyak membahas tentang cirri puisi.
Ciri- sastra tahun 1970-an,para pengarang sangat bebas bereksperimen dalam penggunaan bahasa dan bentuk,tidak seperti sebelumnya,tidak bebas,terikat dan tertekan dengan berbagai aturan yang harus dilaksanakan.
Struktur Fisik pada tahun 1970-sekarang
Struktur fisik puisi
    
1.       Puisi bergaya mantera menggunakan sarana kepuitisan
2.       Puisi kongkret sebagai eksperimen.
3.       Banyak menggunakan kata-kata daerah.
4.       Banyak menggunakan permainan bunyi
5.       Gaya penulisan yang prosaic
6.       Menggunakan kata yang sebelumnya tabu
Sruktur tematik
1.       Protes  terhadap kepincangan masyarakat pada awal industriliasasi.
2.       Kesadaran bahwa aspek manusia merupakan subyek dan bukan obyek pembangunan.
3.       Banyak mengungkap kehidupan batin religious dan cenderung mistis.
4.       Cerita dan pelukisan bersifat alegoris atau parable.
5.       Perjuangan hak asasi kebebasan, persamaan, pemerataan dan terhindar dari pencemaran teknologi modern.
6.       Kritik sosial terhadap si kuat yang bertindak sewenang-wenang terhadap mereka yang lemah dan kritik terhadap penyeleweng
Struktur Fisik Prosa dan Drama
1.       Melepaskan ciri konvensional, menggunakan pola sastra absurd dalam tema, alur tokoh dan latar.
2.       Menempatkan ciri latar kedaerahan warna vocal